Selasa, 11 Agustus 2009

MENARI DI TENGAH HUJAN

Pagi itu klinik sangat sibuk.
Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa kasihan, Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..
Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru.
Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari.
Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat.
Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir.
Aku sangat terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?”
Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, ‘kan?”
Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap merinding,
“CINTA KASIH SEPERTI ITULAH YANG AKU MAU DALAM HIDUPKU.”
Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.
Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.
“Hidup bukanlah perjuangan menghadapi badai, tapi bagaimana tetap MENARI DI TENGAH HUJAN.”
Collect from my friend Siane S.

Senin, 03 Agustus 2009

BERSYUKURLAH SELAGI KAMU MAMPU

Sering kita bertanya pada diri kita sendiri:

Kenapa kita harus mengalami kesulitan sementara orang lain bisa senang
Kenapa kita harus bekerja keras sampai harus lembur sementara orang lain sudah pulang ke rumah
Kenapa kita selalu menjadi karyawan sementara orang lain bisa jadi usahawan sukses
Kenapa kita harus berhujan-hujan naik angkutan umum sementara orang lain merasa nyaman di kendaraan pribadinya

Tapi pernahkah kita bertanya:

Adakah orang lain yang lebih susah daripada kita malah tidak pernah tahu apa yg namanya senang
Adakah orang lain yang tidak punya pekerjaan sampai sekali sampai rela bekerja apapun
Adakah orang yang bahkan untuk naik angkutan umum saja tidak mampu bayar

Kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?

Kenapa saat kita susah kita menyalahkan Tuhan, tetapi kepada saat senang kita lupa pada Tuhan?

Kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?

Jawabannya tidak ada di buku mana pun, tidak ada di siapa pun, tapi di hati kita sendiri…

bersyukurlah selagi kau mampu untuk bersyukur....

sebelum segalanya terlambat dan diambil darimu.

Collect from andiestuff