Rabu, 28 Mei 2008

BURUNG BURUNG TUA YANG BERHARGA

Walaupun kelihatannya remeh tetapi cerita di bawah ini adalah benar.
Adalah seorang bernama George Thomas, ia seorang pendeta di sebuah kota kecil di New England .

Pada suatu hari Minggu Paskah, dia datang ke gereja dengan membawa sebuah sangkar burung yang tua, penyok dan berkarat.
Banyak alis mata yang dinaikkan, dan seperti menanggapi hal itu, pendeta Thomas mulai berbicara.
Kemarin sementara saya berjalan saya melihat seorang anak laki laki berjalan dari arah berlawanan sambil mengayun-ayunkan sangkar ini, di dalamnya ada tiga burung kecil yang menggigil kedinginan dan ketakutan.
Saya menghentikan anak itu dan bertanya,”Apa yang kau punyai, nak?”
“Hanya beberapa burung tua,” jawabnya.
“Apa yang akan kau lakukan dgn mereka?” saya bertanya.
”Membawanya pulang dan mempermainkannya, Akan akan menggodanya dan mencabuti bulunya supaya mereka saling berkelahi. Saya akan sangat senang”.
“Tetapi lama-lama engkau akan bosan dengan burung2 itu, lalu apa yang engkau akan perbuat?” tanya pendeta itu lagi
“Oh, saya punya beberapa kucing, Mereka suka burung. Saya akan memberikan burung2 ini kepada mereka.” kata anak itu.

Pendeta itu diam sejenak. “Berapa engkau mau jual burung2 itu, nak?”
“Anda tidak akan mau burung burung ini, tuan. Mereka hanya burung2 tua biasa. Mereka tidak dapat menyanyi dan juga tidak indah!”
“Berapa?” pendeta itu bertanya lagi.
Anak itu mulai menyangka pendeta itu mungkin gila dan mengatakan. “$ 10(Sembilan puluh ribu)?”
Pendeta itu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang sepuluh dollar dan menaruhnya di tangan anak itu, seperti kilat anak itu menghilang.

Dengan hati-hati pendeta itu menjinjing sangkar itu ke ujung sebuah gang di mana terdapat pohon dan lapangan berumput; membuka pintu sangkarnya dan perlahan-lahan menepuk sangkar itu untuk mengeluarkan burung burung itu dan melepaskan mereka. Nah, itulah penjelasan adanya sangkar burung di atas mimbar ini, kata pendeta itu.
Kemudian pendeta itu menlanjutkan ceritanya :
Pada suatu hari Tuhan Yesus berbicara dengan Setan.
Si setan baru keluar dari taman Firdaus dan dgn sombong membanggakan diri.
“Benar, Tuan. Saya baru menangkap dunia penuh dengan manusia disitu. Aku membuat perangkap dengan umpan yang tidak dapat mereka tampik. Saya mendapatkan mereka semua!
“Apa yang akan kau lakukan dengan mereka?” tanya Yesus.
Setan menjawab: “Oh, aku akan bersenang-senang! Aku akan mengajar mereka bagaimana menikah dan menceraikan satu sama lain, bagaimana membenci dan menekan serta memanfaatkan satu sama lain, bagaimana merokok, mabuk dan mengumpat. Aku akan mengajar mereka menciptakan senjata dan bom dan membunuh satu sama lain. Aku akan sangat menikmatinya!”
“Dan apa yang kau perbuat setelah engkau bosan?” Yesus bertanya lagi.
“Oh, aku akan membunuh mereka,” jawabnya dengan sombong.
“Berapa engkau mau menjual mereka?” Yesus bertanya
“Hah? Anda tidak akan mau. Mereka ini tidak berguna. Mereka hanya akan meludahi Anda, mengumpat dan membunuh Anda. Anda tidak akan mau orang orang itu!”
“Berapa?” tanya Dia lagi.
Setan memandang Yesus dan mengejek, ”Semua darah-Mu, air mata dan hidup-Mu.”
Yesus berkata, “JADI!” kemudian Dia membayar harganya.
Pendeta itu mengangkat sangkar tadi dan meninggalkan mimbar.
Renungan:
Aneh, bagaimana entengnya orang mengabaikan Tuhan dan heran mengapa dunia menuju neraka.
Tidakkah aneh bagaimana seseorang dapat mengatakan “Aku percaya kepada Allah” dan tetap mengikuti Setan (yang juga “percaya” kepada Allah).
Tidakkah aneh bahwa Kita dapat menyebar luaskan ribuan lelucon dan mereka cepat tersebar, tetapi kalau kita mau meneruskan berita berita tentang Tuhan, kita berpikir beberapa kali?
Tidakkah aneh kalau Kita akan meneruskan berita ini, Anda tidak akan meneruskan kepada banyak kenalan Anda, karena Anda tidak yakin akan kepercayaan mereka, atau apa yang akan mereka pikirkan kalau Anda mengirimkannya kepada mereka?
Tidakkah aneh bahwa kita lebih kuatir akan apa yang orang pikirkan tentang kita daripada apa yang Allah pikirkan tentang kita?

Collect from TML

Minggu, 18 Mei 2008

BAGAI BERCERMIN DI TELAGA

Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau.
Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu.
Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu.
Dia ingin mencari tantangan.
Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah.
Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya.
Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam.
Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya.
Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana .
"Hei...ada harimau lain yang tinggal di dalam air." katanya dalam hati
Ia itu tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya.
Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang.
Sesaat kemudian, ia menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada.
Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum dari arah telaga.
"Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini."
Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya.
Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu.
Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu.
Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling.
Ups..kakinya hampir terperosok ke dalam telaga.
Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga.
"Hei...ada harimau yang sedang marah di dalam sana ," begitu pikirnya dalam hati.
Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya.
Dia menunjukkan muka marah.
Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.
"Ah, temanku tadi pasti berbohong."
Tak ada harimau baik dalam telaga itu.
Aku hampir saja dimakannya.
Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram.
Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu.
" Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi.
Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.
Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka.
Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka.
Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri.
Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa.
Tak kurang dan tak lebih.
Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca.
Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu.
Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata,
"Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana ?"
Mari kita coba menatap wajah kita dalam-dalam, dan cobalah jujur menjawabnya,
"Sudahkah kita temukan wajah yang bersahabat di dalamnya?"
Seribu teman masih kurang...
Satu musuh terlalu banyak ....
Lets Make Love not War !
Lets Make Friends not Enemies !

Collect from my friend Chacha

Sabtu, 03 Mei 2008

MENYEBERANGI SUNGAI

Suatu hari di dalam kelas sebuah sekolah, di tengah-tengah pelajaran, pak guru memberi sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya.
Anak-anak,jika suatu hari kita berjalan-jalan disuatu tempat, di depan kita terbentang sebuah sungai kecil, walaupun tidak telalu lebar tetapi airnya sangat keruh.sehingga tidak diketahui berapa dalam sungai tersebut.
Sedangkan satu-satunya jembatan yang ada untuk menyeberangi sungai, tampak di kejauhan berjarak kira-kira setengah kilometer dari tempat kita berdiri.
Pertanyaan saya adalah, apa yang akan kalian perbuat untuk menyeberangi sungai tersebut dengan cepat dan selamat? Pikir baik-baik, jangan sembarangan menjawab.
Jawablah dengan memberi alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini.
Seisi kelas segera ramai, masing-masing anak memberi jawaban yang beragam.
Setelah beberapa saat menunggu murid-murid menjawab di kertas, pak guru segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi.
Ada sekelompok anak pemberani yang menjawab: kumpulkan tenaga dan keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai.
Ada yang menjawab, kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang sampai ke seberang.
Kelompok yang lain menjawab : Kami akan mencari sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga lontaran dari tongkat tersebut.
Dan ada pula yang menjawab : Saya akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai, walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman.
Setelah mendengar semua jawaban anak-anak, pak guru berkata, ”Bagus sekali jawaban kalian.
Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian mempunyai semangat berani mencoba.
Yang menjawab turun ke air berarti kalian mengutamakan praktek.
Yang memakai tongkat berarti kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan.
Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian lebih mengutamakan keamanan.
Bapak senang kalian memiliki alasan atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai, tidak akan lari gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai.
Pesan bapak, mulai dari sekarang dan sampai kapanpun, Kalian harus lebih rajin belajar dan berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai ke tempat tujuan”.



collect from andiestuff

DUA BUAH KUTUB

Ada sebuah kisah dari dua bersaudara kandung.
Yang satu berada di panti rehabilitasi narkoba sedangkan saudara lainnya adalah seorang pengusaha otomotif yang terbilang sukses.
Diantara kawan seumur, hal ini sering jd bahan pergunjingan,
mengapa dua bersaudara yg berasal dari orang tua yang sama,
dibesarkan dalam lingkungan yang sama,
dapat menjadi sangat berbeda.
Pada saat berkunjung ke panti rehabilitasi dimana kawan saya itu berada cukup membuat dia terhibur.
Dalam satu perbincangan dia menjwb pertanyaan klise saya
“Ya, semua ini gara-gara Ayah saya”
Dengan lirih dia meneruskan ucapannya
“Ayah saya seorang pemabuk dan penjudi, keluarga saya bangkrut dan berantakan,
dia hanya memikirkan dirinya sendiri,
sama sekali tak pernah memikirkan saya”
Masih tertunduk lesu dan katanya lagi
“Apa yang bisa diharapkan dari saya hasil dari sebuah keluarga yang berantakan ini?”
Pada kesempatan lain saat saya berjumpa dengan saudara yang lainnya di sebuah showroom-nya yang cukup besar dengan aneka mobil terpajang.
Ditengah kegembiraan karena lama tidak berjumpa, salah satu pembicaraan kami adalah tentang saudaranya yang ada di panti rehabilitasi narkoba.
Pertanyaan spontan pun mengalir dari bibir saya
“Apa yang membuat kamu berbeda dengan saudaramu dan bisa sukses seperti sekarang ini?”
Nampak dia menghela nafas kemudian dia berkata
“Sudah terlalu banyak penderitaan dalam kehidupan saya dan keluarga kami, saya hanya bertekad untuk mengakhirinya”
“Saya benar-benar tidak ingin bernasib seperti Ayah saya dan ingin membahagiakan Ibuku, itulah tekad saya selama ini”
Keduanya mendapatkan kekuatan & motivasi dari sumber yg sama,
bedanya adalah yang seorang memanfaatkannya secara positif, dan seorang lainnya menggunakannya secara negatif.
“Mereka yang positif tak peduli segelap apapun keadaannya, kepalanya selalu tegak serta menengadah melihat semua kemungkinan dan semua itu ada dihadapannya. “
collect from andistuff

PETANI

Menjelang ajalnya seorang petani memanggil kedua orang anak laki-lakinya, diwariskannya kepada mereka masing-masing sepetak sawah yang sama besarnya dan sama suburnya.
Kedua petani bersaudara itu, Gabriel dan Michael,
bekerja keras dari pagi sampai petang mengelola sawah warisan orang tuanya.
Keduanya bekerja sama kerasnya dan sama rajinnya.
Tahun berganti tahun, tidak terasa telah sepuluh tahun berlalu.
Sawah Michael tetap sebesar satu petak itu,
tetapi sawah Gabriel ternyata telah berkembang menjadi sepuluh petak.
Dengan penasaran Michael bertanya kepada Gabriel,
“Sawah kita asalnya sama besarnya dan sama suburnya,
kitapun masing-masing telah bekerja keras,
tetapi mengapa engkau berhasil berkembang pesat sedangkan aku tetap seperti semula.”
Gabriel menjawab,
“Setiap kali panen hasil yang terbaik tidak aku jual,
sengaja aku sisihkan dan digunakan sebagai bibit,
dengan demikian pada musim tanam berikutnya hasil panenku menjadi lebih berlimpah karena menggunakan bibit yang terbaik.
Demikian seterusnya,
dan itulah rahasiaku mengapa aku bisa berkembang pesat.”
Collect from andisuff