Selasa, 24 November 2009

ALLAH MENJAGA HIDUPKU

Mary Murphy, pemimpin dari sebuah jaringan intercessor, baru-baru ini mengirimkan suatu kesaksian.

Kesaksian ini dapat mengingatkan kita untuk selalu berdoa terlebih jika ada dorongan yang kuat dari Allah untuk menyuruh kita berdoa. Saat mengunjungi gereja di tanah asalnya, Michigan, seorang misionaris memberikan kesaksian tentang peristiwa yang dialaminya:

Saat melayani rumah sakit kecil di Afrika, setiap 2 minggu sekali saya melakukan perjalanan ke kota terdekat dengan bersepeda dan melewati hutan, untuk mengambil persediaan obat-obatan.

Perjalanan ini memerlukan waktu 2 hari dan bermalam di tengah hutan setelah menempuh setengah perjalanan. Dalam salah satu perjalanan, setelah tiba di kota terdekat saya merencanakan untuk mengambil uang dari bank, membeli obat-obatan dan barang-barang persediaan, dan kemudian memulai lagi dua hari perjalanan untuk kembali ke rumah sakit.

Ketika tiba di kota , saya melihat 2 orang berkelahi dan salah satunya mengalami luka yang serius. Saya merawat luka-lukanya sekaligus menceritakan padanya tentang Tuhan Yesus Kristus. Sesudah selesai, saya kembali ke rumah sakit dengan selamat tanpa gangguan.

Dua minggu kemudian, saya kembali melakukan perjalanan serupa. Sesampai di kota, saya bertemu lagi dengan orang yang telah saya rawat lukanya. Dia berkata bahwa dia tahu kalau saya memiliki sejumlah uang dan persediaan obat-obatan. Katanya, "Waktu itu, sesudah Anda merawat luka saya, maka beberapa teman dan juga saya mengikuti Anda sampai ke hutan, karena kami tahu bahwa Anda pasti akan bermalam di tengah hutan. Kami merencanakan untuk membunuh Anda lalu mengambil uang dan obat-obatan yang Anda bawa. Namun saat kami hendak bergerak mendekati tenda Anda, kami melihat bahwa Anda dijaga oleh 26 orang bersenjata."

Si misionaris mentertawakan hal itu dan berkata bahwa pada malam itu hanya dia seorang diri yang berkemah di tengah hutan. Tapi, anak muda itu tetap bersikeras, dan berkata, "Benar, Pak! Bukan saya sendiri saja yang melihat para penjaga itu. Kelima teman saya juga melihat mereka, dan kami bersama-sama menghitung jumlah penjaga. Karena penjaga-penjaga itulah, kami lari ketakutan."

Saat misionaris itu menceritakan hal itu di hadapan jemaat di Michigan, tiba-tiba ada seorang jemaat yang menyela khotbahnya dan bertanya kapan peristiwa itu terjadi. Misionaris itu lalu menyebutkan hari terjadinya peristiwa itu.

Jemaat yang menyela tadi lantas bercerita pada misionaris itu: "Insiden yang Anda alami di Afrika itu terjadi di malam hari, tapi saat itu di sini masih pagi, saya sedang mempersiapkan diri untuk main golf. Saya sedang berlatih dengan pukulan ringan saat saya terdorong untuk berdoa bagi Anda. Dorongan Allah tersebut sangatlah kuat, lalu saya mengundang beberapa jemaat lain untuk bertemu di gereja ini dan bersama-sama mendoakan Anda. Jemaat yang bersama-sama saya pada saat itu berdoa, saya undang untuk berdiri!"

Para jemaat yang dimaksud semuanya berdiri. Misionaris itu tidak terlalu memikirkan tentang siapakah mereka, namun dia terlalu sibuk menghitung jumlah jemaat yang berdiri tersebut. Semuanya ada 26 jemaat!

Kesaksian ini dapat digunakan sebagai contoh tentang bagaimana Roh Allah bekerja dengan cara yang luar biasa. Bila Anda menerima dorongan seperti itu, segeralah dilaksanakan. Ada orang yang merindukan dan memerlukan dukungan doa Anda saat itu juga.

Collect from my friend Yong

MENGAPA HARUS AKU TUHAN

Pada suatu hari ada seorang petani yang terkenal begitu rajin dibandingkan dengan teman-temannya. Saat musim tanam tiba, pergilah ia ke sawah untuk menanam padi.

Cuaca yang sangat mendukung dan pikiran untuk mendapat keuntungan yang besar menambah semangatnya untuk terus bekerja.

Hingga tibalah satu pekan sebelum musim panen. Tanpa diduga hujan turun dengan lebatnya selama beberapa hari dan tak kunjung reda yang membuat padi-padi yang sudah ditanamnya sudah terendam air. Hancur sudah impiannya untuk memperoleh hasil panen yang besar. Petani tersebut yang sudah kecewa lalu berteriak, "apa kesalahanku Tuhan sehingga aku mengalami kerugian seperti?"

Orang selalu mengajukan pertanyaan "mengapa" bila sedang menghadapi ketidakberuntungan dan kesukaran.

Pertanyaan ini penting karena menunjuk pada kenyataan bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan. Namun, bukan berarti kita berhak untuk mengatakan "mengapa" setiap kali datang kepada Tuhan.

Pernahkan kita bertanya kepada Tuhan "MENGAPA HARUS AKU YA TUHAN" disaat kita mendapatkan kebahagiaan atau keuntungan. karena seringkali kita akan berpikir hal itu sudah selayaknya kita dapatkan karena usaha keras kita, dan jarang kita berpikir sekeras apapun kita berusaha tanpa campur tangan Tuhan hal itu tidak akan mungkin.

Kisah Ayub dalam Alkitab adalah contoh nyata bagaimana karena selalu bertanya tentang kata yang satu ini, hukuman Tuhan datang kepada-Nya.

Sering kali Allah menyembunyikan alasan / jawaban untuk diri-Nya sendiri. Bahkan Allah menyembunyikannya jauh melampaui pengertian dan kemampuan kita dengan maksud untuk memperkuat iman kita dan agar kita sepenuhnya bersandar kepada-Nya.

Percayalah kepada Allah dengan penuh ketaatan dalam segala situasi dan kondisi. J

angan ragukan perkataan-Nya dan ketahui sudah banyak hal-hal besar menanti bila Anda setia.

Bersungut-sungut adalah penghalang Anda untuk menerima berkat Allah yang luar biasa.


Collect from my friend Yong

Senin, 23 November 2009

KUASAI KECERDASAN EMOSIONAL ANDA

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik,
bukanlah hal mudah." -- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang menganggap remeh pada masalah ini. Padahal, kecerdasan otak saja tidak cukup menghantarkan seseorang mencapai kesuksesan. Justru,pengendalian emosi yang baik menjadi faktor penting penentu kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran mental dari seseorang yang cerdas dalam menganalisa, merencanakan dan menyelesaikan masalah, mulai dari yang ringan hingga kompleks. Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa memahami, mengenal, dan memilih kualitas mereka sebagai insan manusia.

Orang yang memiliki kecerdasan emosi bisa memahami orang lain dengan baik dan membuat keputusan dengan bijak.
Lebih
dari itu, kecerdasan ini terkait erat dengan bagaimana seseorang dapat mengaplikasikan apa yang ia pelajari tentang kebahagiaan, mencintai dan berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan bertanggung jawab dalam segala hal yang terjadi dalam hidupnya, sebagai bukti tingginya kecerdasan emosi yang dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada pencapaian kesuksesan hidup yang *tidak tampak*.
Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan dengan melibatkan emosi, perasaan dan interaksi dengan sesamanya. Terbukti, pencapaian kesuksesan secara materi tidak menjamin kepuasan hati seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang juga dikenal dengan sebutan "EQ"), dikenalkan melalui pasar dunia. Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menggunakan emosi secara tepat dalam setiap bentuk interaksi lebih dibutuhkan daripada kecerdasan otak (IQ) seseorang.


Sekarang, mari kita lihat, bagaimana emosi bisa mengubah segala keterbatasan menjadi hal yang luar biasa....
Seorang miliuner kaya di Amerika Serikat, Donald Trump, adalah contoh apik dalam hal ini.

Di tahun 1980 hingga
1990, Trump dikenal sebagai pengusaha real estate yang cukup sukses, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan sebesar satu miliar US dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak karirnya, yaitu "The Art of The Deal dan Surviving at the Top". Namun jalan yang dilalui Trump tidak selalu mulus...

Anda ingat depresi yang melanda dunia di akhir tahun 1990? Pada saat itu harga saham properti pun ikut anjlok dengan drastis. Hingga dalam waktu semalam, kehidupan Trump menjadi sangat berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada bisnis propertinya ini harus menanggung hutang sebesar 900 juta US Dollar! Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi kebangkrutannya.
Beberapa
temannya yang mengalami nasib serupa berpikir bahwa inilah akhir kehidupan mereka, hingga benar-benar mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump benar-benar diuji. Bagaimana tidak, ketika ia mengharap simpati dari mantan istrinya, ia justru diminta memberikan semua harta yang tersisa sebagai ganti rugi perceraian mereka. Orang-orang yang dianggap sebagai teman dekatnya pun pergi meninggalkannya begitu saja.
Alasan yang sangat mendukung bagi Trump untuk putus
asa dan menyerah pada hidup. Namun itu tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini kesempatan untuk bekerja dan mengubah keadaan. Meski secara finansial ia telah kehilangan segalanya, namun ada "intangible asset" yang tetap dimilikinya.
Ya, Trump memiliki
pengalaman dan pemahaman bisnis yang kuat, yang jauh lebih berharga dari semua hartanya yang pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump sudah berhasil membuat kesepakatan terbesar dalam sejarah bisnisnya.
Tiga tahun
berikutnya, Trump mampu mendapat keuntungan sebesar US$ 3 Milliar. Ia pun berhasil menulis kembali buku terbarunya yang diberi judul "The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita bagaimana kebangkrutan yang menimpanya justru menjadikannya lebih bijaksana, kuat dan fokus daripada sebelumnya. Bahkan ia berpikir, jika saja musibah itu tidak terjadi, maka ia tidak akan pernah tahu teman sejatinya dan tidak akan menjadikannya lebih kaya dari yang sebelumnya. Luar biasa bukan?

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang keteguhan untuk bangkit dari kegagalan, juga mendatangkan kekuatan pada seseorang untuk berani menghadapi ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir pada setiap orang dan bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara mengasah kecerdasan emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.
Latihan dan berani mencoba hal-hal baru akan memberikan beragam pengalaman dan membuka pikiran dengan berbagai kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam segala hal.
Ini akan menjadi jalan untuk bisa mendapatkan kepercayaan orang lain dan mengendalikan kita untuk tidak mudah menyerah. "being accountable is being dependable"

3. Berani keluar dari zona nyaman.
Mencoba keluar dari zona nyaman akan membuat kita bisa mengeksplorasi banyak hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba untuk menghadapinya.
Melakukan hal ini akan membangun rasa percaya diri dan dapat menjadi jaminan bahwa segala sesuatu pasti ada solusinya.

5. Bersikap rendah hati.
Mau mengakui kesalahan dalam hidup justru dapat meningkatkan harga diri kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi anda !

Karena mengendalikan emosi merupakan salah satu faktor penting yang bisa mengendalikan anda menuju sukses dan juga menikmati warna-warni kehidupan.

Collect from my friend hendry Ftrn

PERNAHKAH............

Pernahkah saat kau duduk santai dan menikmati hari, dalam seketika kau ingin berbuat sesuatu untuk orang yang kau sayangi?
Itu adalah TUHAN yang sedang berbicara denganmu melalui roh kudus-Nya.

Pernahkah saat kau sedang sedih, kecewa tetapi tidak ada orang disekitarmu yang dapat kau curhati?
Itu lah saat dimana TUHAN menginginkanmu untuk berbicara pada-Nya.

Pernahkah saat kau memikirkan seseorang yang sudah lama tak kau temui, dan seketika itu juga kau bertemu dengannya atau menerima telp darinya?
Itu adalah kuasa TUHAN. Tidak ada namanya kebetulan.

Pernahkah kau menerima sesuatu yang tak kau harapkan, yang tak sanggup kau dapatkan, yang kau ingin kan?
Itu adalah TUHAN yang mengetahui keinginan/suara hatimu.

Pernahkah kau berada dalam situasi yang buntu, tidak tahu cara memperbaikinya, bagaimana luka itu hilang atau sembuh, kau harus sadari bahwa itu adalah saat dimana TUHAN ingin memberikan cobaan untuk mu, sehingga kau memperoleh hari yang lebih cerah.

Collect from my friend yong

MEMBERI

Alkisah ada seorang anak berumur belasan tahun bernama Clark , yang pada suatu malam akan menonton sirkus bersama ayahnya.

Ketika tiba di loket, Clark dan Ayahnya mengantri di belakang serombongan keluarga besar yang terdiri dari Bapak, Ibu dan 8 orang anaknya.

Keluarga tadi terlihat bahagia malam itu dapat menonton sirkus. Dari pembicaraan yang terdengar oleh Clark dan Ayahnya, Clark tahu bahwa Bapak ke-8 anak tadi telah bekerja ekstra untuk dapat mengajak anak-anaknya menonton sirkus malam itu. Namun, ketika sampai di loket dan hendak membayar, wajah Bapak 8 anak tadi nampak pucat pasi. Ternyata uang 40 dollar yang telah dikumpulkannya dengan susah payah, tidak cukup untuk membayar tiket untuk 2 orang dewasa dan 8 anak yang total harganya 60 dollar. Pasangan suami istri itu pun saling berbisik, bagaimana harus mengatakan kepada anak-anak mereka bahwa malam itu mereka batal nonton sirkus karena uangnya kurang. Sementara anak-anaknya tampak begitu gembira dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke sirkus.

Tiba-tiba Ayah Clark menyapa Bapak 8 anak tadi dan berkata, “Maaf Pak, uang ini tadi jatuh dari saku Bapak”, sambil menjulurkan lembaran 20 dollar dan mengedipkan sebelah matanya. Bapak 8 anak tadi takjub dengan apa yg dilakukan Ayah Clark. Dengan mata berkaca-kaca, ia menerima uang tadi dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah Clark, dan menyatakan betapa 20 dollar tadi sangat berarti bagi keluarganya. Tiket seharga 60 dollar pun terbayar dan dengan riang gembira keluarga besar itupun pun segera masuk ke dalam sirkus.

Setelah rombongan tadi masuk, Clark dan Ayahnya segera bergegas pulang. Ya, mereka batal nonton sirkus, karena uang Ayah Clark sudah diberikan kepada Bapak 8 anak tadi.

Malam itu, Clark merasa sangat bahagia. Ia tidak dapat menyaksikan sirkus, tapi telah menyaksikan dua orang Ayah hebat.

Cerita di atas mengingatkan saya akan kekuatan memberi.

The Power of Giving. Lebih tepatnya lagi “Giving and Receiving”. Karena memberi dan menerima, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Dari cerita diatas, ada dua kebahagiaan yang terjadi dalam aktifitas memberi. Yaitu kebahagiaan bagi yang menerima, dan sekaligus kebahagiaan yang diperoleh si pemberi. Bapak 8 anak yang “diselamatkan” oleh Ayahnya Clark, tentu pada saat itu akan merasa sangat bahagia. Tapi Ayah Clark sendiri juga merasakan kebahagiaan yang sangat luar-biasa.

Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri.

Tidak berlebihan apabila Deepak Chopra dalam 7 Spiritual Law of Success mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima. Coba kita perhatikan.. Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses foto sin tes a dan membebaskan oksigen. Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir.

Orang-orang jaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa latin currere yang artinya mengalir.

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah : Apakah yang harus saya berikan? J

awabannya sama dengan pertanyaan : Apa yang Anda ingin dapatkan? Jika Anda ingin mendapatkan kasih-sayang, berikan kasih sayang. Jika Anda ingin pengetahuan, sebarkanlah pengetahuan. Jika Anda ingin uang, maka berikanlah uang. Ya, ini sesuai dengan prinsip memberi dan menerima di atas, apa yang mengalir keluar dari Anda, adalah apa yang akan mengalir kembali kepada Anda. Alam semesta mengikuti hukum ini. Bahkan yang mengalir kembali kepada Anda, selalu lebih besar dari yang mengalir keluar dari Anda, karena semesta jauh lebih besar dari Anda!

Jadi jika Anda ingin banyak uang, berikan uang. Ada yang bertanya, lalu bagaimana jika uang Anda belum banyak? Wah, kalau begitu Anda perlu memberi lebih banyak lagi :)

Seandainya giving belum menjadi habit, sebetulnya ada beberapa tips yg bisa Anda terapkan. Jika dilaksanakan secara rutin, akan memperkuat syaraf giving Anda:


1. Hadiah.
Kemanapun Anda pergi untuk bertemu dengan seseorang, usahakan membawakan suatu hadiah, apapun bentuk hadiah tadi. Hal ini sebenarnya sudah diajarkan oleh orang tua kita jaman dahulu, namun sering kita lupakan. Perhatikan saja, orang tua kita dahulu setiap berkunjung ke rumah teman atau saudara selalu membawa oleh-oleh. Anda juga bisa memulai kebiasaan ini. Mungkin sekedar membawa sebungkus coklat, bunga atau doa. Ya, kalaupun terpaksa tangan Anda kosong, berikan doa ketika Anda bertemu dengan seseorang.

2. Bersyukur.
Syukuri setiap pemberian yang Anda terima hari ini. Lho, bagaimana jika hari ini saya tidak menerima pemberian apa-apa? Salah, Anda pasti menerima sesuatu dari alam semesta. Mulai dari udara pagi yang cerah, sinar matahari yang hangat, sapaan tetangga yang ramah, bahkan teguran dari orang tidak dikenal, bertemu teman lama yang Anda rindukan, dan masih banyak lagi. Ya tentu lebih konkret lagi apabila tiba-tiba hari ini ada yang memberikan handphone atau iPod baru kepada Anda. Jelas Anda harus syukuri apa yang Anda terima.

3. Cinta.
Berkomitmenlah untuk selalu berbagi apa yang Anda sebetulnya bisa berikan setiap saat: Cinta. Mungkin Anda langsung tertawa. Ah, kalau cuma cinta saya sudah berikan setiap saat untuk keluarga saya. Mungkin Anda benar. Yang harus Anda ingat adalah seperti kata Stephen Covey, Cinta adalah kata kerja, bukan kata benda. Artinya, harus di praktek-kan. Ya, kalau Anda sudah memiliki cinta untuk orang-orang terdekat Anda, praktek-kan. Berapa kali Anda dalam sehari memeluk dan mengusap kepala anak Anda? Berapa kali Anda dalam sehari mengucapkan bahwa Anda sayang suami/istri Anda?

4. Tawa.
Ini bukan hal sepele. Tertawa adalah ekspresi kebahagiaan. Bantulah orang-orang di sekitar Anda mengekspresikan rasa bahagia melalui tertawa. Berapa kali dalam sehari Anda tertawa? Tahukan Anda bahwa seorang anak tertawa rata2 150 kali dalam sehari, dan orang dewasa hanya 15 kali dalam sehari. Bergembiralah, bagikan tawa di rumah Anda, jika tidak nanti anak Anda lebih menyukai Mas Tukul daripada Anda.

5. Pengetahuan.
Anda pasti tahu sesuatu lebih baik dari seseorang. Mungkin Anda jago mengurus ikan Arwana, bagikan. Anda pintar dalam mengurus tanaman Aglonema? Bagikan. Anda pintar memasak, tulis resep dan bagikan. Bagikan pengetahuan Anda, karena pengetahuan adalah gift dari Yang Maha Kuasa.


Collect from my friend yong

AHLI WARIS YANG SEBENARNYA

30 tahun yang lalu, suatu malam di Washington DC, Amerika Serikat, seorang istri pedagang telah kehilangan dompetnya disebuah rumah sakit karena kurang berhati-hati.
Pedagang tersebut sangat gelisah, dan segera kembali ke rumah sakit malam itu juga, untuk mencari dompetnya yang hilang.

Di dalam dompetnya bukan hanya terdapat USD 100.000 saja, tetapi masih ada lagi sebuah dokumen yang sangat rahasia tentang informasi pasar.
Ketika pedagang itu tiba di rumah sakit itu, sekilas pandang ia langsung melihat, di lorong rumah sakit yang dingin dan sepi itu ada seorang gadis kecil berbadan kurus sedang meringkuk kedinginan sambil menyandarkan diri di tembok, ia sedang memeluk erat dompet di dadanya, dompet itu adalah dompet istri si pedagang yang hilang itu.

Gadis kecil itu bernama Sheila, ia sedang menemani ibunya yang sakit keras dan berobat di rumah sakit ini.
Kedua ibu dan anak saling bergantung hidup dalam kemiskinan, segala benda yang masih ada harganya telah mereka jual, dan uang tersebut hanya dapat mencukupi biaya pengobatan untuk satu malam saja. Jika tidak ada uang, besok pagi mereka harus rela diusir keluar dari rumah sakit.

Malam itu, Sheila dalam keadaan tak berdaya sedang mondar mandir di lorong rumah sakit, ia berpikir untuk memohon perlindungan dari Tuhan agar dapat menjumpai seseorang baik hati yang dapat menolong ibunya.

Mendadak ada seorang wanita turun dari tangga ketika ia sedang melewati lorong itu, dompet yang diapit ketiaknya jatuh di lantai, mungkin lengannya masih mengapit barang lainnya, sehingga wanita itu sama sekali tidak merasakan dompetnya telah jatuh.
Saat itu hanya ada Sheila seorang diri di lorong itu. Ia lalu berjalan memungut dompet itu, dan bergegas mengejar keluar pintu. Tapi wanita itu telah masuk ke dalam sebuah mobil dan pergi begitu saja.

Sheila kembali ke kamar pasien, ketika ia membuka dompet itu, kedua ibu dan anak sangat terkejut oleh tumpukan uang yang ada di dalam dompet.
Pada saat itu, di dalam hati mereka berkecamuk, jika uang tersebut digunakan mungkin penyakit ibunya bisa disembuhkan. Akan tetapi ibunya menyuruh Sheila mengembalikan dompet itu ke lorong tersebut, menunggu orang yang kehilangan dompet itu kembali untuk mengambilnya.

Meskipun si pedagang itu telah berusaha sekuat tenaganya, namun ibu Sheila akhirnya harus meninggalkan anaknya sebatang kara.
Akhirnya si pedagang itu mengadopsi anak gadis yang sebatang kara ini.
Kedua ibu dan anak ini bukan saja telah menyelamatkan kerugian uang sebesar USD 100.000 miliknya, namun yang terpenting adalah dokumen rahasia tentang informasi pasar yang seharusnya telah hilang tetapi bisa diperolehnya kembali, yang pada akhirnya berhasil menghantarkan si pedagang itu menjadi semakin kaya, dan tak lama kemudian menjadi seorang konglomerat.

Sheila yang telah diadopsi oleh pedagang tersebut, usai lulus universitas, ia segera membantu konglomerat tersebut dalam urusan perusahaannya.
Walaupun konglomerat tersebut tidak pernah mengangkat dia dengan jabatan yang pasti dalam perusahaan itu, tapi selama bertahun-tahun melatih diri, kecerdasan dan pengalaman dari si konglomerat tanpa disadari telah mempengaruhinya, membuatnya menjadi seorang yang mapan dan memenuhi syarat sebagai pedagang.

Hingga hari tua si konglomerat tersebut, banyak sekali pemikirannya yang terlebih dahulu harus mendapat persetujuan dari Sheila.
Sampai pada ajal si konglomerat tersebut, telah me-ninggalkan sepucuk surat wasiat yang berbunyi : “Sebelum saya mengenal Sheila dan ibunya, saya sudah sangat kaya. Akan tetapi ketika saya berdiri di depan ibu dan anak yang miskin dan sakit, yang telah menemukan uang dalam jumlah besar namun tidak dikantonginya sendiri, saya baru menyadari bahwa merekalah orang yang paling kaya, karena mereka dengan teguh menjaga norma kehidupan yang tertinggi, dan hal ini kebetulan merupakan kekurangan pada diri saya sebagai seorang pedagang. Kekayaan saya boleh dikatakan hampir semuanya saya dapatkan dari tipu muslihat dan persaingan secara tidak sehat baik itu dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Merekalah yang telah membuat saya sadar akan modal yang paling besar dalam kehidupan ini, yakni tingkah laku yang baik. Saya mengadopsi Sheila, bukan karena saya ingin balas budi, juga bukan karena kasihan, akan tetapi saya telah mengundang dia untuk memberikan saya contoh bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya.

Selama ada dia di samping saya, di dalam dunia bisnis, saya akan selalu mengingat, mana yang layak saya lakukan, dan mana yang tidak seharusnya saya lakukan. Hal ini adalah faktor penyebab utama yang telah membawa bisnis saya mencapai kejayaan di kemudian hari, dan saya akhirnya menjadi konglomerat.
Setelah saya mati, seluruh aset kekayaan saya yang mencapai triliunan ini semuanya saya wariskan kepada Sheila sebagai pewaris tunggal.
Ini bukan pemberian hadiah, akan tetapi adalah agar perusahaan saya ini dapat berkembang lebih besar dan jaya di masa yang akan datang.
Saya sangat yakin, putra saya yang cerdas pasti akan dapat memahami pemikiran ayahnya ini.”

Ketika putra si konglomerat yang berada di luar negeri kembali, setelah membaca surat wasiat ayahnya dengan seksama, dengan tanpa keraguan sedikit pun ia segera menanda tangani surat persetujuan ahli waris : “Saya menyetujui Sheila sebagai pewaris tunggal dari seluruh kekayaan dari ayahku. Saya hanya memohon agar Sheila bersedia menjadi istri saya.”

Setelah Sheila melihat tanda tangan dari putra si konglomerat, ia tercenung sejenak, lalu mengambil pena juga dan menanda tangani: “Saya terima semua harta yang ditinggalkan oleh pendahulu saya --- termasuk putranya.”

Ada sebagian teman walaupun tidak saling berhubungan langsung, tapi sering mengirimkan email pada kita, yang berisi sedikit lelucon, atau kata-kata yang menghangatkan hati, atau pun sebuah permainan kecil.
Ini merupakan suatu cara untuk mengungkapkan bahwa teman kita tersebut selalu menaruh perhatian pada kita, ia masih menyimpan kita di dalam hatinya… Semacam keberadaan yang spesial. Maka dari itu harus selalu berniat baik di dalam hati.

Derap kaki melangkah dengan segala kebaikan. Melakukan hal-hal baik, menghargai adanya takdir pertemuan, menanam berkah… dan berharap semua teman-teman yang membaca artikel ini mendapat keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan… Disini saya bermaksud berbagi kebahagiaan ini dengan anda semua.

Collect from my friend henry chang